Space Iklan 460 x 60

Pernikahan

29 Desember 2012, my Wedding Vininta.

Labirin Taman Bunga Nusantara

Taman Bunga Nusantara merupakan tempat yang indah untuk dikunjungi bersama keluarga.

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

24 Mei 2013

Sebuah Senyuman

“Aku ingin kita putus! Dan mulai hari ini kita nggak ada hubungan apa-apa!” tajamnya kata-kata Febria memutuskan hubungan yang sudah berjalan tujuh bulan bersama Endri.
Dengan panasnya terik sang mentari menyengat, Enri hanya terdiam melihat Febria yang pergi meninggalkannya setelah melontarkan kata putus. Setelah beberapa saat Endri melangkahkan kakinya pelan, seperti ada yang dia pikirkan.
Bukan putusnya hubungan dengan Febria yang ia pikirkan. Ia menganggap memang hubungan dirinya dan Febria sudah tak sehat dan putus mungkin jalan keluarnya. Ternyata dia sedang merenungi dirinya sendiri. Karena putusnya hubungan ini adalah yang kelima kalinya. Ia merenungi selama ia berhubungan hanya gitu-gitu aja seperti yang lain. Membosankan.
“Hei! Jalan sambil ngelamun!” kaget Zodi, teman dekat Endri.
“Sialan Lo Zod! Ngagetin gue aja.” Sambil terperanjat Endri menjawab tegur Zodi.
“Kenapa lo murung banget? Kaya kucing kehilangan ekornya aja.”
“Gue baru putus dari Febria.”
“Putus! Sumpe lo?!” tanya Zodi ngerasa heran.
“Iya, gue rasa gue dan dia udah nggak cocok lagi, kita sering berantem dan… ah gitu lah.”
“Ya udah…, jangan dipikirin! Inget pepatah, hilang satu tumbuh seribu. Putus satu cari lagi. Tenang, stok cewek di dunia ini masih banyak. Di skul kita aja cewenya macan semua. Yah kalo elo tinggal puluh aja.” Zodi lagak menasehati.
“Iya, gue juga tau tapi bukan itu yang gue pikirin.”
“Apa dong?” serobot Zodi.
“Gue bingung Zod, gue udah lima kali pacaran tapi semuanya sama, cuma gitu-gitu doang, jalan bareng, nonton, mojok, curhat-curhatan, dua-duaan dan… pokoknya ngebosenin.”
“Jadi lo pengen yang lebih seru kaya ciuman atau anu-anuan?”
“Gile lo! Bukan itu tapi gue pengen yang beda, yang seperti… pokoknya gue belum tahu yang pasti hubungan yang benar-benar dengan atas dasar cinta.”
“Terus sekarang lo mau gimana?” Zodi mulai bingung.
“Mungkin gue nggak akan cari cewek lagi, sampai gue temuin yang gue cari.”
“Jombi dong alias jomblo abadi, hehehe…”
***
Setelah hari itu, memang tak ada yang berbeda dari Endri, siswa SMA yang duduk kelas dua ini. Tapi ia sedikit cuek pada cewek.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan bahkan kelas berganti kelas (kelas 2 ke kelas 3) dia lalui seperti biasa, tak ada yang berbeda. Apa yang ia cari belum ada jawabannya.
Suatu hari ia terlambat ke sekolah dan tak keburu ikut upacara bendera. Akhirnya ia dihukum nyiramin semua bunga yang ada di sekolah. Ia tak sendiri, Aisyah yang kebetulan terlambat juga ikut dihukum bersama Endri.
“Kenapa kamu telat?” Endri membuka percakapan, tapi Aisyah hanya diam menoleh dan meneruskan menyiram bunga. “Sekarang kamu pelajaran apa?” Endri nanya lagi, tapi Aisyah hanya tersenyum kecil. Ia tak menjawab. Melihat guru biologi masuk kelas Aisyah Endri nanya lagi, “Biologi yah?”
“Udah tau nanya.” Aisyah menjawab sinis.
Melihat teman sehukumannya begitu, hati Endri berkata, “Cuek banget nih cewek, mentang-mentang anak ustad sok alim.”
Mereka terus menyiram bunga dan hampir selesai.
Angin pun bertiup kencang tapi lembut membawa hawa kesegaran. Angin pun meraba seluruh tubuh Aisyah yang juga menikmati hembusan angin dengan mata terpejam. Begitu indah, wajah cantik yang terpejam dengan lembayung kerudung yang menambah keelokan disertai tarian dedaunan yang serempak.
“Cantik juga nih cewek…” sambil terbengong melihat Aisyah, Endri tak sadar bahwa ia sedang menyiram seorang guru yang ada di depannya.
“Hei… Endri! Berhenti-berhenti! Kenapa kamu siram Bapak? Lihat baju Bapak jadi basah!!!” sambil marah guru itu membanting siraman bunga yang ada di tangan Endri.
“Aduh maaf Pak, saya nggak sengaja. Maaf, maaf Pak”
Aisyah yang melihat kejadian itu tersenyum lebar dan pergi ke kelas karena sudah menyelesaikan pekerjaannya. Endri yang terpesona melihat senyuman itu tak sadar bahwa ia sedang dimarahi dan ia hanya berucap “Iya Pak 5x”
“Iya Pak Iya Pak, sudah pergi kamu ke kelas! Dasar kamu!”
“Sekali lagi maaf ya Pak!”
Setelah kejadian itu di pikiran Endri terus melintas sebuah senyuman yang mampu menggetarkan hatinya.
“Bengong aja lo! Ayam gue bengong kemaren mati.”
“Eh elo Zod.”
“Kenapa sih lo sejak tadi pagi bengong aja kerjaannya? Kesambet setan mana sih?”
“Bercanda aja lo! Oh iya Zod lo kenal nggak Aisyah?”
“Oh….. iya, kenapa?”
“Nggak, gue baru nyadar kalo dia tu cantik.”
“Ehh… ternyata ini to yang nyambet temen gue. Gini aja Ndri, lo suka ama anak ustad itu? Lebih baik lo lupain aja deh, percuma! Dia tuh alim banget, nggak mungkin diajak pacaran.”
“Lihat aja nanti.” Dengan optimis Endri berdiri dan mengambil tasnya. “Zod, semakin tinggi gunung semakin asik di daki. Jadi lo liat nanti.”
***
Semenjak itu Endri tertarik pada Aisyah, ia terus berusaha ngedeketin. Setiap istirahat ia masuk ke kelas Aisyah. Bila pulang ia selalu diam di depan gerbang untuk melihat Aisyah dan sering dia mengajak ngobrol tapi Aisyah mengacuhkannya. Banyak puisi yang ia kirim ke Aisyah tapi tak pernah ada tanggapan, hingga Endri kehabisan akal mendekatinya.
“Zod menurut lo kalo gue tembak aja Aisyah, gimana?”
“Hem… nembak? Becanda kali lo yah. Kalo lo berani nembak dia berarti lo gali lubang kuburan lo sendiri, ngarti?!!” Zodi menasehati.
“Ah elo Zod mendramatisasi banget. Walaupun gue dah lima kali pacaran tapi baru kali ini gue jatuh cinta dan gue akan memperjuangkannya.
Pas pulang sekolah Endri menyiapkan penembakannya. Ia menunggu Aisyah lewat pulang.
“Aisyah… maaf tunggu sebentar.” Endri menghentikan jalan Aisyah. “Ada yang mau aku omongin ama kamu.” Tapi Aisyah melanjutkan jalannya.
“Aisyah… bentar dulu please… deh, beberapa menit aja. Gini, aku mau bilang kalo aku cinta kamu dan mau nggak kamu jadi pacar aku?” sambil memberikan sebuah bunga, tapi Aisyah diam dan melanjutkan jalan.
“Aisyah, bentar dulu. Kenapa sih kamu cuek ama aku? Apa kamu benci aku? Aisyah, aku minta maag kalo aku punya salah sama kamu. Tapi apa salah kalo aku cinta ama kamu, sayang ama kamu, apa itu salah? Jujur aku ngerasain begini Cuma ama kamu.”
“Dri, kami nggak salah, aku nggak benci kamu. Aku mau jujur sama kamu aku juga sebenernya suka sama kamu.”
“Terus kenapa kamu menolak?” dengan kegembiraan di hati Endri menyerobot.
“Maaf, aku nggak mau pacaran karena itu hanya membuang waktu dan mengobral dosa, nggak ada mau pacaran.”
“Terus gimana dong?”
“Ya udah jalanin aja seperti biasa.”
“Tapi aku nggak bisa, aku sayang banget sama kamu.”
“Kalo kamu sayang sama aku please tunda dulu perasaan kamu sampai nanti Allah menakdirkan kamu melamar aku!” Endri hanya tersentak terdiam. Aisyah pun menunduk.
“Aisyah, rasa cinta ini tidak kecepetan datangnya. Tapi ini akan aku simpan dan aku pupuk hingga nanti aku siap melamar kamu. Mungkin nanti aku akan merasa rindu dan kangen sama kamu tapi itu akan kujadikan pemacu untuk menjaga cinta ini. Aisyah…, cuma satu yang kuminta darimu, kamu juga harus pertahanka rasa suka kamu padaku dan siap menunggu aku, sampai nanti waktu yang akan menjawab, apa kamu setuju?”
Sambil tersenyum dan mengangguk Aisyah meninggalkan Endri.
Dengan kegembiraan yang dahsyat Endri berteriak, “Aisyah, apabila kita bertemu aku mohon beri aku senyuman karena itu yang bisa membuat aku kuat!”
Setelah itu Endri lebih banyak membenahi diri dan terus berusaha mencapati citanya.
Dan hanya garisan Takdir Allah yang menentukan. Wasalam…

27 April 2007

Cintaku Amat Suci

Cintaku Amat Suci
Hari yang indah. Mentari pagi menyinari alam ini, menghangatkan semua yang ada di permukaan bumi. Sinar itu juga menghangatkan tubuh dan hati seorang lelaki yang duduk termangu diatas bangku sekolahnya. Kilauan embun di rumput tak henti-henti menghiburnya, mengingatkannya atas Kuasa Allah, Sang Pencipta alam ini, memberinya semangat yang membara. Ia bertekad bahwa hari ini akan jauh lebih baik dari hari kemarin.
"Doorr.....!!!" seseorang mengagetkan Nazrul, membuyarkan lamunannya.
Nazrul menoleh, dan ia melihat seorang wanita.
"Eh Lili, bikin kaget aja!!"
"Abis..., lo ngelamun aja!"
"Mang ada apa Lil?" tanya Nazrul.
"Lo dah ngerjain PR Fisika belom?"
"Udah dong! Emangnya elo!"
"Ah, sebenernya gue tuh mau ngerjain, tapi gimana lagi?! Gue nggak bisa. Boleh kan gue nyontek PR lo? Gue sengaja dateng pagi buat nyontek!"
"Ya udah, nih." Nazrul memberikan buku Fisikanya pada Lili.
"Makacih ya! Gue mau ke kelas dulu. Tar istirahat gue balikin bukunya. Fisika jam kelima kan di kelas lo?"
"Iya."
"Daahh...!"
Lili segera meninggalkan Nazrul. Dalam hati kecilnya, Nazrul berkata-kata.
"Lil, kenapa obrolan kita begitu cepat? Kenapa? Kenapa tak kutahan kau lebih lama? Bersamamu aku senang, di dekatmu aku tenang."

Lili, indah pesonamu menyejukkan hati, merobek asaku hingga terhenti.

"Teet… Teet…" Bel tanda istirahat berbunyi. Nazrul memasukkan peralatan sekolahnya ke tas. Ia meraba kantong celananya dan menemukan uang. Terbesit niat dalam hatinya ingin jajan ke kantin. Perutnya tak bisa kompromi, ia berjalan begitu cepat ke arah pintu kelasnya.
Di depan pintu…
"Aau….!"
"Dug.."
Nazrul menabrak seseorang hingga terjatuh.
"Aduh… hati-hati dong Rul!"
"Eh, maaf Lil! Gue nggak sengaja." kata Nazrul sambil mengulurkan tangan ke Lili.
"Ya udah nggak apa-apa." Lili menerima sambutan tangan dari Nazrul. "Nih! Gue mo ngembaliin buku Fisika lo."
"Sini, gue periksa dulu, lecek nggak nih!"
"Ah elo! Kaya ga tau gue aja. Gue tu apik." Kata Lili bersuara sedang.
"Lil, ke kantin yu! Gue laper."
" Yuk! Gue juga laper."
Mereka berdua pergi ke kantin. Di sana terlihat banyak siswa-siswi yang jajan dan ngobrol.
"Rul, kita beli somay aja yuk!" Lili menarik tangan Nazrul ke tukang somay.
"Iya, kita beli somay. Tapi jangan narik-narik gini dong!" kata Nazrul tak sesuai dengan hatinya. Senang sekali rasanya ia ditarik oleh Lili.
"Bang, dua piring tiga ribu! Campur!" kata Lili pada tukang somay.
"Tunggu bentar ya Neng!" jawab tukang somay.
Tukang somay segera menyiapkan pesanan mereka. Sambil menunggu…
"Lil, ada yang mau gue omongin." Kata Nazrul pelan.
"Ngomong ya ngomong aja, ngga usah pake kata-kata pembuka segala!" kata Lili santai.
"Ini serius Lil!"
"Ya udah, ngomong aja!"
"Gini Lil, dari semenjak kita…"
"Eh, salah tuh!" kata Lili memotong pembicaraan.
"Salah apanya?"
"Dalam bahasa Indonesia, nggak ada kata dari semenjak."
"Oh…, iya deh. Begini, semenjak kita berteman waktu SMP, kan cocok-cocok aja, jarang banget selek." Nazrul berhenti berkata, meminta balasan dari Lili.
"Iya, kita dah berteman dari SMP, mang kenapa?"
"Emm…" Nazrul tak meneruskan kata-katanya.
"Kenapa sih?"
Nazrul terdiam, namun segera ia angkat bicara.
"Sebenernya gue… gue itu…"
"Neng! Jang! Ni somaynya." Tukang somay memotong pembicaraan.
"Makasih bang!" jawab Lili.
Setelah itu mereka makan. Nazrul mengurunkan niat tuk mengungkapkan perasaannya pada Lili.
***

Sorenya…
"Lil, gimana hubungan lo ama si Irwan?" tanya Lusi.
"Oh iya, gue mau ngasih tau lo, kemaren sore gue ama Irwan ketemu. Dia nembak gue." Lili menjelaskan.
"Terus Lil, lo terima ga?"
"Ya, gue terima aja. Abisnya dia baek, ganteng en yang pasti gue juga suka ama dia." kata Lili sambil senyum-senyum.
"Bagus deh Lil. Tapi lo mau ngapain aja ama pacar pertama lo itu?" tanya Lusi.
"Gue sih nggak mau macem-macem, paling cuma jalan, shoping ama ngobrol-ngobrol, itu aja."
"Yah…, itu mah ama temen laki yang laen juga bisa. Maksud gue lo bakal ngelakuin yang enak-enak ga kaya pelukan dan laen-laen?" Lusi berkata bernada ngejek.
" Ih, amit-amit deh kaya gitu!" Lili membantah.
***

"Teet… teet… teet…" bel tanda pulang sekolah berbunyi.
Nazrul tidak segera pulang. Ia membaca-baca kembali pelajaran Fisikanya.
"Nazrul! Gue belum ngerti integral nih!" kata Lili.
"Apanya yang belom ngerti?"
"Kenapa bisa begini?"
"Gini, ini n plus satu, yang ini juga pangkatnya n plus satu. Yang ini sebagai a."
"Oh…"
Nazrul menjelaskan pelajaran Fisika pada Lili. Lili yang manggut-manggut tak pernah lepas dari pandangan Nazrul. Nazrul terus melihat wajah Lili yang cantik. Suara Lili pun begitu indahnya yang membuat Nazrul semakin bersemangat.
"Oh, gitu toh! Makasih ya Rul!" kata Lili sambil beranjak dari duduknya.
"Tunggu Lil, ada yang mau gue omongin."
"Ih…, dari kemaren. Mau ngomong susah amat. Mang mau ngomong apa?" tanya Lili.
"Gue… gue… " Nazrul terbata-bata.
"Tuh kan! Yang serius dong!"
"Gue…"
"Dug tak.. dug taktak dug…"
Pembicaraan terpotong oleh suara ponsel Lili. Lili segera melihat dan mengoprek ponselnya.
"Sialan!" kata Lili sambil tersenyum.
"Kenapa Lil?" Nazrul penasaran.
"Liat deh ini!" kata Lili sambil memberikan ponselnya.
Nazrul melihat ponsel Lili dan membaca smsnya.

Lili, wajahmu…bopeng.
Suaramu…cempreng.
Tubuhmu…kerempeng.
Namun cintaku…ngabereleng.

"Dari siapa Lil?" Nazrul bertanya dengan cemas.
"Dari Irwan, baru dua hari jadian, ga ada romantis-romantisnya tu anak!" jawab Lili.
"Ja… jadian?" Nazrul berusaha menahan gejolak di hatinya..
"Oh iya, gue lupa ngasih tau lo, dua hari yang lalu gue jadian ama si Irwan."
Jawaban yang tak diharapkan. Nazrul tak kuasa menahan hatinya. Tanpa berkata-kata lagi, Nazrul langsung berpaling dan berlari menuju Mushola sekolahnya. Ia segera berwudhu dan tanpa disadari air mata berderai dibalik air wudhunya. Hatinya bimbang, bergelombang-gelombang seolah tak dapat menerima kenyataan ini. Lili, seorang wanita yang sangat dicintainya, memilih pria lain. Tak dapat dipungkiri, sekuat apapun hati Nazrul, ia tak kuasa menahan perihnya.

Bagai serpih pasir dipantai tersapu gelombang pasang. Begitulah hatiku, perih…, perih sekali…, terhantam karang, terbawa ombak. Patah…, kau patahkan cerita kita berdua. Remuk…, kau remukkan harapan yang tumbuh di hati.

Nazrul sedang sholat. Dalam sholatnya itu, tak bisa lagi ia menahan air matanya. Tak pernah sebelumnya ia menangis dalam sholatnya. Begitu dalam luka hatinya, perih rasanya. Ia beranggapan lebih baik hatinya tersayat pisau daripada seperti ini.
"Asalamualaiku waroh matullah…" imam sholat bersalam.
Jemaah sholat segera bersalam pula, tapi ada beberapa yang berdiri kembali untuk menyempurnakan rakaat sholatnya.
Masing-masing orang berdzikir dan berdoa pada Allah. Begitu juga Nazrul, dalam linangan air mata, ia berdoa pada Allah, mengadukan masalahnya, memohon kekuatan pada-Nya.
Bayu yang melihat hal itu segera mendekati Nazrul, ia diam sejenak menunggu respon dari Nazrul. Melihat Bayu disampingnya, Nazrul segera memeluknya. Tangisnya tak bisa terbendung.
"Yu…, huk…huk…huk, dia…" kata Nazrul sambil cegukan karena tangisnya.
"Udah…, tenangin dulu hati lo!" Bayu menenangkan.
Mereka berdua berpindah ke dinding belakang Mushola. Orang-orang memandang Nazrul yang berlinang air mata. Pandangan mereka iba, sangat iba meski tak tahu apa yang membuat Nazrul menangis.
Semakin lama, mushola semakin sepi. Nazrul yang mulai tenang angkat bicara.
"Yu…, gue sedih banget."
"Ya udah…, sekarang lo ceritain semuanya ama gue!"
"Lo tau kan si Lili? Gue cinta banget ama dia Yu! Gue cinta banget!"
"Terus… kenapa lo nangis?"
"Dia…, dia jadian ama cowok laen!" kata Nazrul yang mulai menangis lagi.
Bayu berpikir sejenak sambil menenangkan Nazrul.
"Rul, jadi lo nangis karena itu? Lo juga sholat sambil nangis karena itu? Lo berdoa juga sambil nangis karena itu?" tanya Bayu.
"Iya Yu! Gue berdoa pada Allah supaya gue dikuatin, terus gue minta supaya si Lili juga cinta ama gue." Jawab Nazrul parau.
"Bagus lah!"
"Apanya yang bagus! Lo ngeledek gue Yu?"
"Tenang Rul! Gini Rul, pada tahun ke-10 kenabian, Rasulullah mengalami kesedihan yang amat besar. Paman beliau yaitu Abu Thalib, meninggal dalam keadaan yang merugi. Istri Rasulullah, Siti Khadidjah juga meninggal di tahun itu. Embargo dari kaum musyrikin juga sangat parah. Itu semua sangat membuat Nabi sedih. Namun, di tahun itu, Rasulullah SAW dihibur dengan peristiwa yang amat besar, Isra dan Mi'raj. Dalam peristiwa itu, Rasulullah diberi perintah langsung untuk melaksanakan Sholat. Ini bisa kita ambil hikmahnya. Dalam keadaan senang maupun susah, kita harus sholat. Insya Allah Rul, masalah lo bakal ada jawabannya dari Allah. Gue cuma bisa nyaranin supaya lo sholat malem terus berdoa padaNya."
"Iya Yu, gue bakal lakuin itu. Makasih ya Yu, lo dah nemenin gue."
"Sama-sama, moga lo cepet baek."
Nazrul dan Bayu meninggalkan mushola dan pulang ke rumah masing-masing.
Setelah hari itu, Nazrul tampak jadi pendiam. Ia jarang sekali bicara.
Nazrul sedang berusaha membunuh cintanya pada Lili. Namun, semakin ia berusaha melupakan Lili, rasa cinta itu semakin besar dan bergejolak di hatinya.

"Rul, kita pulang yuk!" kata Lili dari jendela kelas Nazrul.
"Nggak ah Lil, gue mau sholat dulu. Lo jalan aja ama si Irwan." Jawab Nazrul.
"Gile lo! Si Irwan kan jauh sekolahnya, masa gue harus ke sekolahannya dulu! Ya udah, lo sholat dulu, gue tunggu di depan ya! Gue lagi ga sholat nih."
"Bener ya lo mau nunggu?!"
"Iya." Jawab Lili.
Mereka berjalan menuju mushola. Lili agak heran dengan kelakuan Nazrul, biasanya kalau Ia berjalan dengan Nazrul, pasti ada canda tawa. Kini Nazrul hanya diam. Beberapa kali Nazrul tak menjawab pertanyaan Lili. Keadaan itu cukup mengganggunya.
Ketika mereka sampai di mushola, Lili melihat Nazrul yang membuka sepatunya dan siap berwudhu. Ketika Nazrul hendak berwudhu, ia menoleh ke arah Lili. Saat itulah dua pasang mata saling berpandangan. Lili melihat ada sesuatu dibalik mata Nazrul. Lili mulai sadar apa yang menimpa sobatnya itu.
Setelah sekitar 10 detik berpandangan, mereka tersenyum. Nazrul segera berjalan ke tempat wudhu. Lili berpaling ke arah kantin. Ia berjalan kesana dan duduk merenung memikirkan Nazrul.
Hati yang bimbang membuatmu tak karuhan. Ku terdiam melihatnya. Dirimu membuatku terhanyut dalam kasih yang mendalam. Kau pun tersenyum padaku, tetapi hati pilumu membuat diriku sedih.
Lili menulis sebuah surat untuk Nazrul. Tanpa disadari, air mata Lili pun sedikit mengalir. Goresan tinta biru pada suratnya cukup indah. Lili menyadari kesalahan-kesalahannya. Ia terhanyut dalam kata-katanya sendiri. Amplop cokelat muda menutup suratnya itu.
"Lil, gue dah selesai, yu kita pulang!" Nazrul mengajak.
"Yu!"
Nazrul dan Lili berjalan keluar sekolah. Di depan sekolah itu terdapat jalan raya. Mereka hendak menyebranginya.
Tiba-tiba…
"Nazrul…!! Awas…!!" Lili berteriak sambil mendorong Nazrul hingga terjatuh.
"Drakk…!" suara sepeda motor yang menabrak Lili. Lili terlempar hingga 4 meter.
"Aauuu….!" Para siswi berteriak ketakutan.
"Lili…..!!!!" teriak Nazrul yang spontan mendekati Lili. Nazrul segera mengangkat Lili. Ia menyetop angkot untuk membawa Lili ke rumah sakit. Beberapa siswa ikut naik termasuk Bayu.
"Lil! Dengerin gue!" kata Nazrul sambil memeluk Lili.
"Rul…, maafin gue…!" kata Lili pelan.
"Lil, bertahan Lil!! Gue mau ngomong ama lo!" Nazrul semakin panik.
"Gue dah tau Rul, gue tau apa yang mau lo omongin. Di surat ini, ada jawabannya… A.." Lili memberikan amplop cokelat muda itu. Dia langsung tak sadarkan diri.
Nazrul memeriksa nadinya, lemah, lemah sekali.
Setibanya di rumah sakit, Lili segera dibawa ke UGD. Nazrul dilarang masuk. Ia menunggu diluar.
Dengan penuh kesedihan, ia berdoa supaya Lili selamat.
"Ya Allah! Jika aku bisa, biarkanlah aku yang celaka. Kenapa mesti dia Ya Allah!"
Dibukanya amplop cokelat muda pemberian Lili. Nazrul segera membacanya.
Dear Nazrul
Rul, selama ini gue nggak tahu perasaan lo ke gue. Namun tatapan mata lo udah ngasih tau gue kalo lo tu cinta ama gue. Gue yakin lo pasti ngeharap gue juga cinta ama lo.
Rul…, maafin…, maafin gue! Gue nggak bisa ngebales cinta lo yang begitu besar ke gue. Gue juga sadar betapa sakit hati lo waktu tau gue jadian ama Irwan. Seandainya waktu bisa diputar…, gue ga bakalan nyakitin lo Rul!
Gue nggak bisa nemenin lo waktu lo susah, gue ga bisa dengerin curhatan lo, maafin gue…, maafin gue Rul! Gue nyesel nggak bisa ngebahagiain lo.
Tapi Rul, lo mesti inget, ada yang mencintai lo lebih dari gue. Cinta yang amat besar buat lo! Itulah Cinta Allah. Ingatlah waktu lo lagi susah! Lo aduin semua pada-Nya, lo curhat ama Dia! Lo memohon ama Dia! Sekarang, apa lo masih berpaling ama gue! Sementara Allah, tempat curhat lo malah lo lupain! Betapa sakitnya lo waktu gue nggak ngebales cinta lo. Sekarang gimana Allah nggak marah ke lo sementara Dia mencintai lo, tapi lo malah berpaling ke gue! Lo Cuma deket ama Allah kalo lo butuh doang! Padahal Dia sangat mencintai makhluk-Nya.
Cintailah Allah! Balas cinta-Nya pada lo! Cintai Rasulullah saw! yang mencintai lo sebagai umatnya. Cintai kaum muslimin! Teman seiman kita, teman kita di surga kelak, insya Allah.
Gue juga mau ngasih tau, gue dah putus ama Irwan. Sekarang gue dah inget sama Allah. Gue mau jadi teman seperjuangan kaum muslimin. Sekarang gue jadi muslimah yang baik. Doain supaya gue diampuni Allah! Doain ya Rul!
Kalo memang kita jodoh, ga bakal deh lepas gitu aja. Allah yang ngatur! Maafin gue ya! Jangan lupa doain gue!
Lili
Nazrul menutup surat itu dan segeralah ia beristighfar meminta ampun kepada Allah. Ia menyesali keadaannya. Mengapakah ia lupa akan cinta Allah? Padahal Allah begitu menyayangi dan mengasihinya. Mengapa ia tak menjadikan Allah sebagai cintanya? Mengapa?
Di tengah penyesalan itu Nazrul meneteskan air mata. Untuk kedua kalinya Bayu mendekati Nazrul yang sedang menangis.
"Yu…" suara Nazrul lirih.
"Ya?" jawab Bayu pelan.
"Gue banyak dosa Yu! Gue nyesel!"
"Dah, sabar. Gue pernah bilang lo bakal dapetin jawaban dari Allah. Ini adalah sebagian kecil dari kuasa-Nya. Lo nggak bakalan nyesel mencintai Allah, cinta lo nggak bakalan bertepuk sebelah tangan. Boleh kita mencintai sesuatu selain Allah, tapi jangan berlebihan! Sebab bisa jadi yang lo cintain itu hilang gitu aja." Bayu menenangkan Nazrul.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat melewati Nazrul dan Bayu.
"Suster! Gimana keadaan Lili?" tanya Nazrul.
"Dia hanya shock dan luka sedikit, jangan kuatir! Seminggu juga sembuh." Jawab suster.
"Alhamdulillah." Ucap Bayu.
Saat itu juga Nazrul mencari tempat bersih lalu ia melakukan sujud syukur.
***
20 bulan kemudian…
"Hore…! Kita lulus…!" sorak semua siswa setelah pengumuman hasil ujian akhir.
"Lil, gue mau langsung kerja di perusahaan besi ini, gue dah dijamin. Gue mau kerja sambil kuliah." Kata Nazrul.
"Waw, selamet deh!" Lili antusias.
"Lil, sebenernya gue mau di semester pertama kuliah gue, lo ada di sisi gue."
"Maksud lo?!" kata Lili dengan senyuman.
"Mau ga lo jadi istri gue?" tanya Nazrul.
"Emm… Gini aja, tar malem lo ajak bapak ibu lo ke rumah gue. Lo pinang gue!" seru Lili.
"Bener Lil? Gue seneng banget!" Nazrul gembira.
Satu bulan kemudian, Nazrul dan Lili menikah. Mereka jadi keluarga muda yang sakinah.
***


Untuk cintaku (siapa yah???)